Tamponade Jantung

Tamponade Jantung

 

Pengertian
Temponade jantung merupakan sindroma klinis yang disebabkan oleh akumulasi cairan dalam ruang perikardium yang menyebabkan berkurangnya pengisian ventrikel (diastolik) yang menyebabkan terganggunya hemodinamik (Nursing Memahami Berbagai Macam Penyakit hal. 96)
 Tamponade jantung merupakan suatu sindroma klinis akibat penumpukan cairan berlebihan di rongga perikard yang menyebabkan penurunan pengisian ventrikel disertai gangguan hemodinamik (Dharma, 2009 : 67)
 Tamponade jantung merupakan kompresi akut pada jantung yang disebabkan oleh peningkatan tekanan intraperikardial akibat pengumpulan darah atau cairan dalam pericardium dari rupture jantung, trauma tembus atau efusi yang progresif (Dorland, 2002 : 2174).
 Tamponade adalah perembesan darah dari jantung ke dalam ruang pericardial sehingga menimbulkan kompresi yang proggresif pada jantung dan obstruksi pada vena-vena besar. (Mansjoer, dkk. 2000: 298).
 Tamponade jantung merupakan salah satu komplikasi yang paling fatal dan memerlukan tindakan darurat. Terjadi penngumpulan cairan di pericardium dalam jumlah yang cukup untuk menghambat aliran darah ke ventrikel. (Mansjoer, dkk. 2001: 458) Jumlah cairan yang cukup untuk menimbulkan tamponade jantung adalah 250 cc bila pengumpulan cairan tersebut berlangsung cepat, dan 100 cc bila pengumpulan cairan tersebut berlangsung lambat, karena pericardium mempunyai kesempatan untuk meregang dan menyesuaikan diri dengan volume cairan yang bertambah tersebut (Muttaqin, 2009 : 137).
 Tamponade terjadi ketika ada akumulasi cairan pada ruang pericardium. Ini mengakibatkan elevasi pada tekanan intracardiac, penurunan diastole secara progresif dan berkelanjutan, mengurangi volume sekuncup dan cardiac output. (ENA, 2000: 128). Tamponad terjadi bila jumlah efusi pericardial menyebabkan hambatan serius aliran darah ke jantung (gangguan diastolic ventrikel) (Panggabean, 2006 : 1604).
 Jadi tamponade jantung adalah kompresi pada jantung yang disebabkan oleh peningkatan tekanan intraperikardial akibat pengumpulan darah atau cairan dalam pericardium (250 cc bila pengumpulan cairan tersebut berlangsung cepat, dan 100 cc bila pengumpulan cairan tersebut berlangsung lambat) yang menyebabkan penurunan pengisian ventrikel disertai gangguan hemodinamik, dimana ini merupakan salah satu komplikasi yang paling fatal dan memerlukan tindakan darurat.
2. Epidemiologi
 Insidensi di USA 2-10.000 populasi
 Kira-kira 2% luka tajam menyebabkan temponade jantung
 Anak-anak : laki-laki : perempuan = 7:3
 Dewasa : pria : wanita = 1,25 : 1
 Temponade jantung yang berkaitan dengan trauma lebih sering pada dewasa muda, sedangkan akibat keganasan atau gagal ginjal biasa terjadi pada lansia.
3. Anatomi dan Fisiologi Jantung
Jantung merupakan organ yang berfungsi sebagai pompa muscular dengan fungsi ganda dan pengaturan diri secara otomatis dan bagian-bagiannya bekerja sama untuk mengalirkan darah ke berbagai bagian tubuh. Sisi kanan jantung menerima darah yang miskin akan oksigen dari tubuh melalui vena cava superior dan vena cava inferior dan memompanya ke paru-paru melalui truncus pulmonalis untuk oksigenisasi, sedangkan sisi kiri menerima darah yang kaya akan oksigen dari paru dan memeompanya ke dalam aorta untuk disalurkan ke tubuh. Jantung berpetak 4 : atrium dekstrum dan atrium sinistrum, serta ventrikulus dekster dan venytrikulus sinister. Dinding masing-masing ventrikulus jantung terdiri dari 3 lapisan :  Endokardium Merupakan lapisan dalam yang melapisi sentrikulus jantung dan katupnya. Miokardium Merupakan lapisan tengah yang dibentuk oleh serabut otot jantung. Epikardium
Merupakan lapisan luar yang dibentuk oleh lamina visceralis pericardium serosum. Perikardium adalah kantong fibroserosa berdinding ganda yang meliputi jantung dan pangkal pembuluh besar jantung. (Moore, 2002. 58).
4. Etiologi
Menurut buku (Nursing memahami berbagai macam penyakit hal. 97) :
 Infraksi miokardial akut
 Efusi (akibat kanker, infeksi bakteri tuberkulosis bisa juga demam reumatik tetapi jarang)
 Hemoragi akibat penyebab nontraumatik (ruptur jantung atau pembuluh darah besar, atau terapi antikoagulan pada pasien perikarditis) sedangkan akibat traumatik (luka tembakan atau tusukan di dada, preforasi pada saat kateterisasi kardiak atau venosa pusat)
 Idiopatik
 Uremia
Menurut (Panggabean, 2006 : 1604) : Perdarahan intraperikard yang disebabkan oleh katerisasi jantung intervensi koroner, pemasangan pacu jantung, tuberculosis, dan penggunaan antikoagulan. Menurut (Mansjoer, dkk. 2001 : 458) : Tamponade jantung bisa disebabkan karena neoplasma, perikarditis, uremia dan perdarahan ke dalam ruang pericardial akibat trauma, operasi, atau infeksi.
5. Tanda dan Gejala
Menurut (Mansjoer, dkk. 2000: 298) :
Gejala yang muncul bergantung kecepatan akumulasi cairan perikardium.Bila terjadi secara lambat dapat memberi kesempatan mekanisme kompensasi seperti takikardi, peningkatan resistensi vascular perifer dan peningkatan volume intravaskular.Bila
cepat, maka dalam beberapa menit bisa fatal. Tamponade jantung akut biasanya disertai gejala peningkatan tekanan vena jugularis, pulsus paradoksus >10mmHg, tekanan nadi <30mmHg, tekanan sistolik <100mmHg, dan bunyi jantung yang melemah.Sedangkan pada yang kronis ditemukan peningkatan tekanan vena jugularis, takikardi, dan pulsus paradoksus. Keluhan dan gejala yang mungkin ada yaitu adanya jejas trauma tajam dan tumpul di daerah dada atau yang diperkirakan menembus jantung, gelisah, pucat, keringat dingin, peninggian vena jugularis, pekak jantung melebar, suara jantung redup dan pulsus paradoksus.Trias classic beck berupa distensis vena leher, bunyi jantung melemah dan hipotensi didapat pada sepertiga penderita dengan tamponade. Menurut (Oman, 2008 : 269) : Gambaran klinis tamponade jantung meliputi takikardia, hipotensi, suara jantung yang redup atau pelan, dan distensi vena leher (yang menunjukkan peningkatan tekanan vena jugularis). Palsus paroduksus merupakan gambaran lain yang menandai perubahan yang tidak terduga tekanan vena. Penurunan tekanan sistolik yang semakin mencolok akan terjadi pada saat inspirasi. Suara jantung akan terdengar redup karena adanya cairan yang membungkus jantung sehingga menurunkan hantaran tonus jantung. Menurut ENA (2000 : 129) : Tanda dan gejala yang muncul dapat berupa takipnea, tanda kusmaul (peningkatan tekanan vena saat inspirasi ketika bernafas spontan), Beck’s triad, distensi vena jugularis dari elevasi tekanan vena, pulsus paradoksus : sistolik menurun saat inspirasi 10 mm Hg atau lebih), tekanan nadi terbatas, takikardi, kulit dingin, kulit lembab, bibir, jari tangan dan kaki sianosis, dan penurunan tingkat kesadaran. Menurut buku (Nursing memahami berbagai macam penyakit hal. 97)
 Resah dan Gelisah
 Diaforesis
 Berkurangnya volume akhir sistolik ventrikuler akibat ketidakcukupan perload
 Dispnea
 Hepatomegali
 Kenaikan tekanan perkardial yang terhantar secara seimbang di rongga jantung dan menyebabkan kenaikan yang sesuai dalam intrakardiak, terutama tekanan atrial dan ventrikuler akhir-diastolik
 Kenaikan tekanan darah venosa disertai distensi vena jugular
 Tekanan denyut nadi kecil
 Pucat atau sianosis
 Tekanan darah arterial menurun
 Takikardia
 Denyut paradoksial (penurunan insoporatik abnormal dalam tekanan darah sistemik lebih dari 15 mmHg)
 Saat auskultasi, bunyi jantung terdengar samar seperti terhalang
6. Patofisiologi
Tamponade jantung terjadi bila jumlah efusi pericardium menyebabkan hambatan serius aliran darah ke jantung ( gangguan diastolik ventrikel ). Penyebab tersering adalah neoplasma, dan uremi. (Penggabean, 2006 : 364 ). Neoplasma menyebabkan terjadinya pertumbuhan sel secara abnormal pada otot jantung. Sehingga terjadi hiperplasia sel yang tidak terkontrol, yang menyebabakan pembentukan massa (tumor). Hal ini yang dapat mengakibatnya ruang pada kantong jantung (perikardium) terdesak sehingga terjadi pergesekan antara kantong jantung (perikardium) dengan lapisan paling luar jantung (epikardium).Pergesekan ini dapat menyebabkan terjadinya peradangan pada perikarditis sehingga terjadi penumpukan cairan pada pericardium yang dapat menyebakan tamponade jantung. Uremia juga dapat menyebabkan tamponade jantung (Price, 2005 : 954). Dimana orang yang mengalami uremia, di dalam darahnya terdapat toksik metabolik yang dapat menyebabkan inflamasi (dalam hal ini inflamasi terjadi pada perikardium). Selain itu , tamponade jantung juga dapat disebabkan akibat trauma tumpul/ tembus. Jika trauma ini mengenai ruang perikardium akan terjadi perdarahan sehingga darah banyak terkumpul di ruang perikardium. Hal ini mengakibatkan jantung terdesak oleh akumulasi cairan tersebut.
Neoplasma
Uremia
Hiperplasia
Mengandung toksik metabolik
Perikard terdesak
Inflamasi
Gesekan perikard & epikard
Penumpukan cairan atau efusi
Chest injuries, blunt
Inflamasi perikarditis
Berkumpulnya darah
Hemotoraks
Jantung terdesak akumulasi cairan
Tamponade Jantung
7. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut buku (Nursing memahami berbagai macam penyakit hal. 97)
 Sinar X : menunjukkan mediastinum yang sedikit melebara dan kardiomegali
 EKG : memperlihatkan perubahan yang disebabkan oleh perikarditis akut
 Kateterisasi erteri pulmonal : mengindikasikan tekanan atrial kanan, tekanan diastolik ventrikuler kanan, dan tekanan venousa pusat
 Ekokardiografi : mencatat efusi perikardial dengan tanda kompresi ventrikuler dan atrial kanan
 Pemeriksaan Doppler terhadap tanda morfologi jantung dapat membantu dalam menegakkan keakuratan diagnosa klinis dan mendukung pemeriksaan laboratorium dari pola hemodinamik pada tamponade. (Nichols, 2006 : 257)
 Menurut Braunwald (2001 : 167) hasil pemeriksaan Echocardiografi pada tamponade jantung menunjukkan : 1. Kolaps diastole pada atrium kanan 2. Kolaps diastole pada ventrikel kanan 3. Kolaps pada atrium kiri 4. Peningkatan pemasukan abnormal pada aliran katup trikuspidalis dan terjadi penurunan pemasukan dari aliran katup mitral > 15 % 5. Peningkatan pemasukan abnormal pada ventrikel kanan dengan penurunan pemasukan dari ventrikel kiri 6. Penurunan pemasukan dari katup mitral . 7. Pseudo hipertropi dari ventrikel kiri
 Karakteristik tamponade jantung pada pemeriksaan EKG : • Amplitudo rendah pada semua sadapan (terjadi karena cairan akan meredam curah listrik jantung). • Fenomena elektrikal alternans (aksis listrik jantung berubah-ubah pada setiap denyutan). Tampak di EKG perubahan amplitudo tiap kompleks QRS, terjadi karena jantung berotasi secara bebas dalam kantung perikard yang berisi cairan. (Dharma, 2009 : 67).
8. Penatalaksanaan
 Perikardiosntris atau pembedahan untuk membuat lubang
 Pembuatan jendela perikardial, dilakukan jikan pasien mengalami temponade, efusi atau adesi akibat perikarditis kronis
 Pengambilan perikardium pelindung yang menguat (untuk kasus yang lebih parah)
 Pemuatan volume percobaan dengan larutan garam normal I.V temporer dengan albumin (pasien yang mengalami hipotensi)
 Dapat diberikan obat inotropik misalnya : Dopamin untuk menjaga output kardiak
 Transfusi darah atau torakotomi untuk mengalirkan cairan yang terakumulasi kembali atau memperbaiki tempat pendarahan (untuk cedera traumatik)
 Diberi obat antagonis heparin protamin sulfat (pasien yang mengalami temponadee terpicu-heparin)
 Pemberian vitamin K (pasien yang mengalami terpicu-warfarin)
9. Komplikasi
 Gagal jantung
 Syok kardiogenik
 Henti jantung
10. Asuhan Keprawatan
a. Pengkajian
Riwayat kesehatan sekarang :
 Trauma tumpul atau penetrasi dada, leher, punggung atau abdomen
 Repair lesi kardiak
 Dispnea
 Kecemasan
 Nyeri dada
 Fatigue/malaise
Riwayat medis :
 penyakit jantung
 penyakit neoplasma atau infeksi
 gagal ginjal (tergantung hemodialisis)
Pemeriksaan fisik :
 Luka penetrasi terhadap leher, thorak posterir/anterior, abdomen bagian atas
 Beck triad signs
 Takipnea/rales
 Tanda kusmaul : peningkatan tekanan vena saat inspirasi nafas spontan
 Distensi vena jugularis tadak ada pada hipovolemia
 Pulsus paradoksus : TD sistolik menurun dengan inspirasi (10mmHg atau lebih)
 Tekanan nadi menurun
 Takikardi : kulit dingin dan pucat, bibir dan jari sianosis, Penurunan urin output
b. Diagnosa Keperawatan
 Penurunan kardiak output b.d gangguan pengisian jantung dan kontraktilitas, penurunan venous return sekunder terhadap tekanan intrathoraks
 Pola nafas tidak efektif b.d hiperventilasi ditandai dengan takipnea, tanda kusmaul.
 Penurunan curah jantung b.d perubahan sekuncup jantung ditandai dengan distensi vena jugularis, perubahan EKG, TD menurun, kulit dingin, pucat, jari tangan dan kaki sianosis.
 Perfusi jaringan (cerebral, perifer, cardiopulmonal, renal, gastrointestinal) tidak efektif b.d suplai O2 menurun ditandai dengan nadi lemah, TTV abnormal, penurunan kesadaran, kulit pucat, sianosis, akral dingin.
c. Implementasi dan Pelaksanaan
 Pola nafas tidak efektif b.d hiperventilasi ditandai dengan takipnea, tanda kusmaul.
Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1 x 15 menit diharapkan pola nafas efektif dengan kriteria hasil :
– Takipnea tidak ada
– Tanda kusmaul tidak ada
– TTV dalam rentang batas normal (RR : 16 – 20 X/ mnt).
Intervensi Rasional Mandiri:
– Pantau ketat tanda-tanda vital terutama frekuensi pernafasan Perubahan pola nafas dapat mempengaruhi tanda-tanda vital
– Monitor isi pernafasan, pengembangan dada, keteraturan pernafasan, nafas bibir dan penggunaan otot bantu pernafasan Pengembangan dada dan penggunaan otot Bantu pernapasan mengindikasikan gangguan pola nafas
– Berikan posisi semifowler jika tidak kontrainndikasi Mempermudah ekspansi paru
– Ajarkan klien nafas dalam Dengan latihan nafas dalam dapat meningkatkan pemasukan oksigen Kolaborasi
– Berikan oksigen sesuai indikasi Oksigen yang adekuat dapat menghindari resiko kerusakan jaringan
– Berikan obat sesuai indikasi Medikasi yang tepat dapat mempengaruhi ventilasi pernapasan.
 Penurunan curah jantung b.d perubahan sekuncup jantung ditandai dengan distensi vena jugularis, perubahan EKG, TD menurun, kulit dingin, pucat, jari tangan dan kaki sianosis.
Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 10 menit diharapkan curah jantung ke seluruh tubuh adekuat. Kriteria hasil :
– TTV dalam batas normal (Nadi : 60-100 x/mnt, TD : 110-140 mmHg).
– Nadi perifer teraba kuat
– Suara jantung normal.
– Sianosis dan pucat tidak ada.
– Kulit teraba hangat
– EKG normal
– Distensi vena jugularis tidak ada.
Intervensi Rasional Mandiri :
– Monitor TTV berkelanjutan TTV merupakan indicator keadaan umum tubuh (jantung).
– Auskultasi suara jantung, kaji frekuensi dan irama jantung. Perubahan suara, frekuensi dan irama jantung dapat mengindikasikan adanya penurunan curah jantung.
– Palpasi nadi perifer dan periksa pengisian perifer. Curah jantung yang kurang mempengaruhi kuat dan lemahnya nadi perifer.
– Kaji akral dan adanya sianosis atau pucat. Penurunan curah jantung menyebabkan aliran ke perifer menurun.
– Kaji adanya distensi vena jugularis Tamponade jantung menghambat aliran balik vena sehingga terjadi distensi pada vena jugularis. Kolaborasi :
– Berikan oksigen sesuai indikasi Oksigen yang adekuat mencegah hipoksia.
– Berikan cairan intravena sesuai indikasi atau untuk akses emergency. Mencegah terjadinya kekurangan cairan.
– Periksa EKG, foto thorax, echocardiografi dan doppler sesuai indikasi. Pada tamponade jantung, terjadi abnormalitas irama jantung dan terdapat siluet pembesaran jantung.
– Lakukan tindakan perikardiosintesis. Dengan perikardiosintesis cairan dalam ruang pericardium dapat keluar.
 Perfusi jaringan (cerebral, perifer, cardiopulmonal, renal, gastrointestinal) tidak efektif b.d suplai O2 menurun ditandai dengan nadi lemah, TTV abnormal, penurunan kesadaran, kulit pucat, sianosis, akral dingin.
Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 x 15 menit diharapkan perfusi jaringan adekuat dengan kriteria hasil :
– Nadi teraba kuat
– TTV dalam batas normal (Nadi : 60-100 x/mnt, TD : 110-140 mmHg)
– Tingkat kesadaran composmentis
– Sianosis atau pucat tidak ada
– Nadi teraba lemah, terdapat sianosis,
– Akral teraba hangat
Intervensi Rasional Mandiri :
– Awasi tanda-tanda vital secara intensif Perubahan tanda-tanda vital seperti takikardi akibat dari kompensasi jantung untuk memenuhi suplai O2.
– Pantau adanya ketidakadekuatan perfusi (kulit : dingin dan pucat, sianosis) Menunjukkan adanya ketidakadekuatan perfusi jaringan
– Pantau GCS Penurunan perfusi terutama di otak dapat mengakibatkan penurunan tingkat kesadaran
– Anjurkan untuk bed rest/ istirahat total Menurunkan kebutuhan oksigen.
 Pastikan pasien dengan sudut 45-60 derajat
 Pantau tekanan darah, ritme kardiak dan CVP selama dan setelah perikardiosentesis
 Infuskan larutan I.V untuk menjaga tekanan darah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s