Gastroesofageal reflux

  1. 1.      Pengertian
  • Gastroesophageal reflux disease adalah gerakan atau aliran balik pada makanan dan asam lambung menuju mulut melalui kerongkongan.
  • GERD adalah suatu kondisi dimana cairan lambung mengalami refluks ke esofagus sehingga menimbulkan gejala yang khas berupa rasa terbakar, nyeri dada, regurgitasi dan komplikasi.
  • GERD adalah suatu keadaan patologis yang disebabkan oleh kegagalan dari mekanisme antirefluks melindungi mukosa esofagus terhadap refluks asam lambung dengan kadar yang abnormal dan paparan berulang.
  1. 2.      Epidemiologi

Gastroesophageal reflux disease (GERD) umum ditemukan pada populasi di negara barat namun dilaporkan relatif rendah insidennya di Asia-Afrika. Divisi Gastroenterohepatologi Departemen IPD FKUI – RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta, mendapatkan kasus esofagitis 22,8% dari semua pasien yang menjalani pemeriksaan endoskopi atas indikasi dyspepsia, gastrofageal refluks didapatkan 45-89% penderita asma, hal ini mungkin disebabkan oleh refluks esofageal, refluksesofagopulmoner. Pada bayi mengalami refluks ringan sekitar 1 : 300 sampai  1 : 1000. Gastrorefluksesofagus pada bayi banyak terjadi pada bayi sehat berumur 4 bulan, dengan > 1x episode regurgitas, pada umur 6 sampai 7 bulan, gejala berkurang dari 61% menjadi 21% . Hanya 5 % bayi berumur 12 bulan yang mengalami GERD.

  1. 3.      Etiologi
  • Pembersihan esofageal yang abnormal
  • Ketidaksempurnaan tekanan LES (lower esophageal sphincter) atau tekanan di lambung lebih besar dari tekanan LES
  • Keterlambatan pengosongan gastrik yang disebabkan oleh obstruksi jalan keluar gastrik parsial atau gastroparesis

Faktor Predisposisi

  • Agen apapun yang menurunkan LES bawah, misalnya makanan, alkohol, rokok, kolinergis (atropine, belladonna dan propantheline), dan obat lain (morfin, diazepam dan meperdine)
  • Kondisi apapun yang meningkatkan tekanan intraabdominal
  • Hernia hiatal (terutama pada anak laki-laki)
  • Intubasi nasogastrik jangka panjang (lebih dari 5 hari)
  • Pembedahan pilorik (pengubahan atau pembuangan piloris)
  1. 4.      Tanda dan Gejala
  • Asimtomatik (pada beberapa kasus)
  • Pendarahan (berwarna merah cerah atau cokelat gelap)
  • Nyeri kronis, bisa memancar sampai leher, rahang dan lengan
  • Penyakit pulmonari kronis atau desahan nokturnal, bronkitis, asma, suara parau di pagi hari, dan batuk (akibat refluks konten gastrik ke dalam tenggorokan dan aspirasi setelahnya)
  • Disfagia

Disfagia adalah sensasi gangguan pasase makanan dari mulut ke lambung. Pasien mengeluh sulit menelan atau makanan terasa mengganjal di leher / dada , atau makanan terasa tidak turun ke lambung. Harus dibedakan dengan odinofagia (rasa sakit waktu menelan). Disfagia dapat disebabkan oleh gangguan pada masing-masing fase menelan, yaitu pada fase orofaringeal dan fase esofageal.

  • Disfagia pada fase orofaringeal berupa keluhan adanya regurgitasi ke hidung, terbentuk waktu berusaha menelan atau sulit untuk mulai menelan. Bila disfagia terduga pada fase ini, biasanya dilakukan barium meal, apabila normal dilakukan endoskopi atas + biopsi, namun apabila normal dapat dilakukan fluoroskopi. Etiologi yang berkaitan dengan disfagia fase orofaringeal antara lain : penyakit serebrovaskular, kelainan muskular, tumor, divertikulum Zenker, gangguan motilitas/sfingter esofagus atas.
  • Disfagia pada fase esofageal, pasien mampu menelan tapi terasa yang ditelan masih mengganjal atau tidak mau turun serta sering disertai nyeri retrosternal. Bila disfagia terduga pada fase ini biasanya dilakukan sama dengan disfagia yang ditemukan pada fase orofaringeal. Awalnya dilakukan barium meal. Perbedaannya adalah apabila hasilnya normal. Jika pada fase orofaringeal hasilnya normal, dilakukan fluoroskopi sedangkan pada fase esofageal bila normal dilakukan manometri. Etiologi yang berkaitan dengan disfagia fase esofageal : inflamasi, striktur esofagus, tumor, ring/web, penekanan dari luar esofagus, akalasia, spasme, esofagus difus, skleroderma.

Pendekatan Diagnostik

  • Esofagogastrokopi
  • Barium meal (esofagografi)
  • Manometri

Disfagia yang pada awalnya terutama terjadi pada waktu menelan dapat secara progresif kemudian terjadi pula pada makanan cair, diperkirakan bahwa penyebabnya adalah kelainan mekanik atau struktural. Sedangkan bila gabungan makanan padat dan cair diperkirakan penyebabnya adalah gangguan neuro muskular. Bila keluhan bersifat progresif bertambah berat, sangat dicurigai adanya proses keganasan.

  • Kegagalan pertumbuhan dan muntah dengan kuat akibat iritasi esofageal (pada anak-anak)
  • Indigesti dan mulas (bisa semain parah 1 sampai 2 jam setelah makan, saat bersandar, saat melakukan latihan berat, membengkokkan badan atau berbaring)
  • Regurgitasi nokturnal
  • Odinofagia dan kemungkinan sakit substernal samar
  1. 5.      Patofisiologi

Esofagus dan gaster dipisahkan oleh zona tekanan tinggi yang dihasilkan oleh kontraksi lower esophageal sphincter (LES). Pada individu normal, pemisah ini akan dipertahankan kecuali pada saat terjadinya aliran antegrad yang terjadi pada saat menelan atau aliran retrograde yang terjadi pada saat sendawa atau muntah. Aliran balik dari gaster ke esophagus melalui LES hanya terjadi apabila tonus LES tidak ada atau sangat rendah (<3mmhg).

Refluks gastroesofageal pada pasien GERD terjadi melalui 3 mekanisme, yaitu Refluks spontan pada saat relaksasi LES yang tidak adekuat, aliran retrograde yang mendahului kembalinya tonus LES setelah menelan, meningkatnya tekanan intra abdomen.

Dengan demikian dapat diterangkan bahwa patogenesis terjadinya GERD menyangkut keseimbangan antara faktor defensif dari esofagus dan faktor ofensif dari bahan refluksat. Faktor defensif dari esofagus yaitu pemisah antirefluks berupa tonus LES. Menurunnya tonus LES menyebabkan menurunnya kecepatan klirens asam sehingga apabila terjadi aliran retrograde transient akan ada cukup waktu untuk asam mengiritasi mukosa esofagus. Faktor defensif lainnya dari esofagus adalah ketahanan dari epitelial esofagus.

  1. 6.      Pemeriksaan Diagnostik
  • Fluoroskopi penelanan barium, penyelidikan pH esofageal, endoskopi dan esofagoskopi untuk memastikan diagnosis
  • Uji keasaman esofageal adalah pengukuran yang paling sensitif dan akurat pada refluks gastroesofageal. Derajat refluks bisa ditentukan dengan pemantauan pH esofageal selama 12 sampai 36 jam
  • Pada anak-anak, esofagografi barium dengan kontrol fluoroskopi bisa menunjukkan refluks. Refluks rukuren setelah pasien berusia 6 minggu merupakan kondisi abnormal
  • Esofagoskopi dan biopsi memungkinkan visualisasi dan kepastian perubahan patologis dalam mukosa.
  1. 7.      Penatalaksanaan
    1. Tindakan Medis
  • Pemberian Antasid sesuai indikasi (biasanya 1 sampai 3 jam setelah makan dan sebelum tidur)
  • Agens antisekretorik (dijual bebas dan bisa membantu kasus ringan)
  • Agens perintang reseptor histamin-2 (cimetidine[Tagament], rantidine[Zantac], famotidine[Pepcide], nizatidine[Axid]) selama 6 sampai 12 minggu, bisa meringankan gejala dalam kasus menengah
  • Inhibitor pompa proton, misalnya omeprazole(prolisec), pantoprozole(protonix), atau rebeprazole(Aciphex) diperlukan untuk esofagitis erosif
  1. Tindakan Keperawatan
  • Beri medikasi sesuai resep
  • Beri tahu pasien agar menghindari keadaan apapun yang meningkatkan tekanan intraabdominal
  • Jelaskan persiapan yang dibutuhkan untuk uji diagnostik
  • Setelah pembedahan dengan pendekatan toraks, secara seksama lihat dan catat drainase pipa dada dan status respiratorik. Bila perlu lakukan fisioterapi dada dan beri oksigen. Lakukan spirometri insentif. Tempatkan pasien dengan pipa NG pada posisi semi fowler untuk membantu mencegah refluks
  • Beri keyakinan dan dukungan emosional
  • Ajari pasien cara menghindari dan menangani refluks.
  1. 8.      Komplikasi
  • Erosif esofagus
  • Erosif barrett’s
  • Striktur esofagus
  • Gagal tumbuh
  • Perdarahan saluran cerna akibat iritasi
  • Mukosa (selaput lendir)
  • Aspirasi
  1. 9.      Prognosis

Gejala GERD biasanya berjalan perlahan-lahan, sangat jarang terjadi episode akut atau keadaan yang bersifat mengancam nyawa (jarang menyebabkan kematian). Prognosis penyakit ini baik jika derajat kerusakan esofagus masih rendah dan pengobatan yang diberikan benar pilihan dan pemakaiannya.

  1. 10.  Asuhan Keperawatan
    1. Pengkajian
  • Keadaan umum : Kaji tingkat ketegangan/kelelahan, tingkat kesadaran kualitatif atau GCS dan respon verbal klien.
  • Kaji vital sign :
    • Tekanan darah : sebaiknya diperiksa dalam posisi yang berbeda, kaji tekanan nadi dan kondisi patologis.
    • Pulse rate
    • Respiratory rate
    • Suhu
    • Pemeriksaan Fisik :
      • Inspeksi    :

Klien tampak muntah

Klien tampak lemah

Klien tampak batuk-batuk

Klien tampak memegang daerah yang nyeri

  • Auskultasi :

Suara terdengar serak

Bising usus menurun < 12x/menit

Suara jantung S1/S2 reguler

  1. Diagnosa Keperawatan
  • Nyeri akut b.d inflamasi
  • Gangguan menelan b.d striktur atau penyempitan pada esofagus akibat gastrofageal refluks disease
  • Bersihan jalan napas tidak efektif b.d penumpukan sekret dan batuk tidak efektif
  • Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia, mual dan muntah
  1. Intervensi dan implementasi
  • Nyeri akut b.d inflamasi

Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan nyeri pasien hilang, berkurang atau terkontrol dengan

Kriteria hasil :

  • Nyeri berkurang (skala 1-2), hilang (skala 0) atau dapat dikontrol
  • Klien tampak rileks
  • Klien tampak tidak meringis kesakitan

Intervensi :

  • Kaji pengalaman nyeri anak dan tentukan konsep nyeri anak bila mungkin

Rasional : membantu dalam mengevaluasi rasa nyeri

  • Bantu klien melakukan teknik relaksasi

Rasional : membantu mengurangi rasa nyeri

  • Berikan aktifitas hiburan yang tepat

Rasional : mengerahkan kembali perhatian, memberikan distraksi dalam tingkat aktifitas individu

  • Gangguan menelan b.d striktur atau penyempitan pada esofagus akibat gastrofageal refluks disease

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan gangguan menelan dapat teratasi dengan

Kriteria Hasil :

  • Tidak teramati adanya kesulitan menelan
  • Tidak terjadi statis makanan dalam rongga mulut
  • Klien tidak tersedak setelah makan dan minum

Intervensi :

  • Kaji apakah individu cukup sadar dan responsif, dapat mengontrol mulut, dapat menelan salivanya sendiri

Rasional : untuk mengetahui kemampuan menelan klien dan dapat melakukan intervensi yang tepat untuk mencegah aspirasi.

  • Berikan diet lunak pada klien

Rasional : makanan lunak lebih mudah ditelan sehingga tidak menimbulkan nteri di tenggorokan.

  • Berikan makanan dengan pelan-pelan pastikan makanan dikunyah sebelum ditelan.

Rasional : makanan yang telah dikunyah lebih halus teksturnya sehingga lebih mudah untuk ditelan.

  • Bersihan jalan napas tidak efektif b.d penumpukan sekret dan batuk tidak efektif

Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan darapkan ketidakefektifan jalan napas teratasi dengan

Kriteria hasil :

  • Tidak adanya penumpukan sekret di jalan napas
  • Mengi tidak ada
  • PR dalam rentang normal (bayi = 30-40x/menit dan anak-anak 20-26x/menit)
  • Batuk efektif

Intervensi :

  • Kaji frekuensi pernapasan anak dan iramanya setiap jam

Rasional : pengkajian yang sering menjamin fungsi pernapasan yang adekuat

  • Posisikan anak dengan kepala dan dada lebih tinggi dan leher ekstensi

Rasional : posisi ini dapat mempertahankan bukaan jalan napas

  • Lakukan pengisapan sekresi dari jalan napas sesuai kebutuhan

Rasional : mengurangi sekret statis di jalan napas dan melegakan jalan napas.

  • Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia, mual dan muntah

Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dapat teratasi dengan

Kriteria hasil :

  • Tidak terjadi penurunan berat badan lebih dari 10% berat badan ideal
  • Tidak adanya mual-muntah
  • Tidak adanya penurunan nafsu makan

Intervensi :

  • Pertahankan kebersihan mulut dengan baik sebelum dan sesudah mengunyah makanan

Rasional : mulut yang tidak bersih mempengaruhi rasa makanan dan menimbulkan mual-muntah

  • Tawarkan makanan porsi kecil tapi sering dapat mengurangi perasaan teang pada lambung

Rasional : makan porsi kecil tapi sering dapat mengurangi beban saluran pencernaan

  • Atur agar mendapatkan nutrien yang berprotein atau kalori pada saat individu ingin makan.

Rasional : agar asupan nutrisi dan kalori klien adekuat

  • Timbang berat badan pasien saat bangun dan tidur dan setelah berkemih pertama.

Rasional : untuk mengetahui berat badan mula-mula sebelum mendapatkan nutrien

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s